Supercycle Commodity di 2021, Bagaimanakah Prospeknya Terhadap Kinerja MEDC?

0

Tahun 2021 diprediksi oleh banyak pihak menjadi tahun supercycle commodity, yang ditandai dengan naiknya harga berbagai macam komoditas, seperti batubara, nikel, minyak dan gas. Lalu bagaimanakah prospek dari saham MEDC sendiri? Mari kita bahas bersama secara top down analysis.

Sekilas MEDC

Pt. Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) adalah perusahaan energi dan sumber daya alam yang fokus pada tiga segmen bisnis utama: minyak dan eksplorasi & produksi gas, ketenagalistrikan dan memiliki hak partisipasi yang tidak dikonsolidasikan dalam tambang tembaga dan emas. MEDC juga memiliki hak partisipasi dalam 15 properti minyak dan gas di Indonesia, yang mana 11 di antaranya telah berproduksi. Selain itu MEDC juga memiliki hak partisipasi di delapan negara lain yaitu Vietnam, Thailand, Yaman, Libya, Oman, Malaysia, Meksiko, dan Tanzania. Dengan melihat portfolio bisnis MEDC yang mayoritas berbasis komoditi migas dan tambang, tentunya kinerja MEDC sangat terpengaruh oleh harga dari komoditas-komoditas tersebut.

Tinjauan Global

Berdasarkan data harga minyak di bawah ini, terlihat bahwa harga minyak yang turun pada 2020 akibat pandemi, telah berangsur-angsur naik hingga mencapai harga 65-69 USD/barrel. Padahal, pada bulan April 2020, harga minyak WTI bahkan sempat menyentuh -30 USD/barel. Sedangkan minyak Brent anjlok hingga 20 USD/barel. Artinya sejak April tahun lalu, harga minyak telah meningkat hingga 3 kali lipat untuk Brent. Dan sejak Desember 2020, harga minyak telah menembus 50 USD/barel.

Harga minyak dunia

Sedangkan harga gas selama setahun terakhir juga terlihat mengalami kenaikan hingga mencapai 2,6 USD/mmbtu. Bahkan sempat mencapai 3,2 USD/mmbtu di pertengahan Februari kemarin, karena sempat terjadi badai salju yang melumpuhkan negara bagian Texas dan membuat Texas mengalami krisis energi.

Harga gas dunia

Dengan kenaikan harga dari 2 komoditas utama penghasil pendapatannya, maka pendapatan MEDC di kuartal 1 2021 ini bisa dipastikan akan turut mengalami peningkatan. Dengan mulai didistribusikannya vaksin Covid-19 di seluruh dunia, secara bertahap negara-negara mulai menggiatkan aktifitas ekonominya kembali. Sehingga harga minyak diprediksi akan terus menguat selama beberapa waktu ke depan. Value: 8/10

Tinjauan Industri

Semenjak pandemi Covid-19 di awal tahun 2020, harga minyak dunia telah merosot tajam seperti yang dijelaskan di atas. Ini mengakibatkan banyak perusahaan migas dunia mengalami kerugian yang tidak sedikit. Pertamina, sebagai perusahaan migas terbesar di Indonesia, juga mengalami kerugian hingga sekitar 11 triliun di semester pertama 2020. Selain tantangan akibat pandemi, industri migas di Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan lain. Yang pertama adalah usia sumur-sumur migas yang sudah tua, yang menyebabkan perusahaan migas kesulitan untuk memenuhi target produksi. Yang kedua adalah mulai masuknya sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan, yang dalam jangka panjang akan membuat minyak dan gas kehilangan nilai tambahnya.

Untuk mengatasi masalah yang pertama, SKK Migas telah menargetkan pertumbuhan sumur baru sebesar hingga 20-30 persen per tahun. Kebijakan ini tentunya akan memberikan dukungan bagi MEDC untuk melakukan eksplorasi sumur-sumur baru, yang mana akan difasilitasi oleh pemerintah dengan insentif dan perjanjian-perjanjian yang menguntungkan MEDC. Sedangkan untuk menghadapi tantangan yang kedua, tentunya MEDC harus bisa melakukan operasionalnya dengan lebih efisien, agar minyak dan gas yang dijualnya tetap memiliki harga yang bersaing dibanding sumber energi lain, lebih baik lagi jika MEDC bisa mendiversifikasi bisnisnya, dan juga ikut masuk ke dalam sektor energi terbarukan. Ini akan memberikan kepastian jangka panjang untuk MEDC sendiri. Value: 6/10

Tinjauan perusahaan

  • Neraca

Per 30 September 2020, posisi aset lancar MEDC adalah sebesar 2,25 miliar USD, naik 32,8% dari 31 Desember 2019 yang sebesar 1,69 miliar USD. Sedangkan liabilitas lancar MEDC mengalami kenaikan 100% dari 705 juta USD menjadi 1,4 miliar USD. Secara hitungan kertas masih aman, karena rasio lancar MEDC adalah sebesar 1,6 kali. Begitu pula dengan jumlah kas dan deposito yang dimiliki oleh MEDC yang sebesar 665 juta USD (termasuk deposito yang dibatasi senilai 289 juta USD), masih cukup untuk membayar pinjaman bank dan obligasi yang dimiliki dalam jangka pendek. Hanya saja, Debt Equity Ratio MEDC termasuk jelek, sekitar 4,1 kali. Bahkan jika hanya menghitung hutang berbunganya saja, DER MEDC masih tetap jelek, yaitu sekitar 2,9 kali. Ini tentu merupakan sebuah hal yang beresiko untuk investor. Meskipun oleh PEFINDO peringkat hutang dan obligasi MEDC mendapatkan rating A+ dengan outlook positif, tetapi tingkat hutang yang tinggi akan membebani kinerja MEDC jika tidak bisa menghasilkan arus kas yang cukup untuk membiayai operasionalnya. Untungnya tren harga minyak yang meningkat ini akan bisa membantu pendapatan MEDC di tahun 2021. Value: 6/10

  • Laba-Rugi

Per 30 September 2020, MEDC masih mencatatkan rugi sebesar 118 juta USD (119 Juta USD secara komprehensif). Kerugian ini terutama disebabkan karena turunnya angka penjualan akibat turunnya harga minyak dan gas, sehingga Gross Profit yang didapat oleh MEDC tidak cukup untuk membiayai seluruh operasionalnya.

Lalu bagaimana dengan prospek MEDC di 2021 ini? Dengan harga minyak dan gas yang mengalami peningkatan, tentunya pendapatan MEDC di 2021 ini juga akan mengalami peningkatan cukup drastis. Dari hitungan kasar saja melihat harga gas yang mengalami kenaikan rata-rata 25%, dan kenaikan harga minyak rata-rata yang mencapai 45% dari sejak September 2020, saya memprediksi MEDC akan mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba kotor dari segmen penjualan minyak dan gasnya paling tidak sebesar 35% di tahun 2021. Jika harga minyak semakin naik dan mencapai 100 USD/barel, tentunya kinerja MEDC akan semakin menarik untuk dilihat.  Value: 5/10

  • Arus Kas

Arus kas operasi MEDC per 30 September 2020 tercatat masih positif sebesar 262 juta USD, namun capex MEDC hingga September 2020 tercatat sebesar 266,5 juta USD, begitu pula dengan aktivitas pendanaan yang mencapai 134,3 juta USD. Sehingga, secara overall arus kas MEDC hingga Q3 2020 adalah negatif 138,4 juta USD. Selain itu MEDC masih memiliki cadangan kas dan setara kas sebesar 328 juta USD. Ini merupakan hal yang cukup beresiko bagi likuiditas MEDC karena utang segera jatuh temponya cukup besar, untungnya penguatan harga minyak beberapa bulan terakhir ini sepertinya akan membuat kinerja MEDC jauh lebih baik di tahun 2021 dan arus kasnya menjadi positif. Value: 6/10

Valuasi

Lalu bagaimanakah valuasi MEDC saat ini? Mari kita mencoba menghitung menggunakan beberapa metode, yaitu BV growth, EPS growth, dan Enterprise Value nya. Dengan menggunakan data-data dari LK kuartal 3 MEDC tahun 2020, kita mendapatkan nilai buku MEDC sekitar 686 rupiah/lembar.

Sedangkan nilai intrinsik MEDC, saya akan mencoba menghitungnya dengan memperhitungkan kondisi perusahaan saat ini dan potensinya di masa depan menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut:

  • Enterprise value MEDC adalah sebesar 46.522.269.942.400 (46,5 triliun)
  • Horizon investasi 5 tahun
  • Asumsi kinerja MEDC tetap seperti sekarang selama 5 tahun ke depan.
  • ROE MEDC selama 5 tahun ke depan adalah sama dengan ROE positif terendah selama 5 tahun terakhir. (9%)
  • Semua angka pendapatan dan laba yang digunakan untuk menghitung disetahunkan.
  • Kurs dollar yang digunakan adalah Rp. 14.400/USD.
  • Harga saham saat ini adalah 500/lembar.

Menggunakan beberapa asumsi di atas dan metode EPS growth, nilai intrinsik MEDC adalah Rp. 311/lembar. Jauh lebih rendah dari harga saat ini yang berada di angka sekitar Rp. 500/lembar. Ini wajar karena MEDC selalu mencetak kerugian selama beberapa tahun terakhir, dan EPS nya menjadi negatif. Karena itu valuasi menggunakan metode EPS Growth untuk perusahaan yang labanya tidak stabil tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya patokan.

Lalu bagaimana dengan metode BV Growth. Sebaliknya, BV Growth menggunakan asumsi bahwa MEDC akan bisa menghasilkan laba untuk 5 tahun ke depan, dengan tingkat ROE 9%. Menggunakan asumsi ini, nilai intrinsik MEDC berada di angka Rp. 1056/lembar. Karena hingga Q3 2020 MEDC masih mengalami kerugian, maka kita harus hati-hati jika menggunakan metode ini menjadi patokan satu-satunya.

Lalu bagaimana dengan metode ketiga menggunakan Enterprise Value? Untuk metode ini, saya akan membandingkan Enterprise Value (EV) di harga Rp. 575/lembar dengan Arus Kas Operasi (CFO) MEDC yang disetahunkan. EV/CFO MEDC berada di angka 9,2x, yang mana cukup mahal sebenarnya. Artinya, jika membeli keseluruhan saham MEDC di harga yang sekarang, butuh waktu sekitar 9,2 tahun untuk BEP jika melihat dari arus kas yang bisa dihasilkannya, lebih panjang dari horizon investasi yang diharapkan. Sehingga di harga saat ini, valuasi MEDC bisa dibilang kurang menarik. Value: 4/10

Kesimpulan

Sebagai perusahaan komoditi yang bisnisnya menjual minyak dan gas, MEDC memiliki peluang untuk diuntungkan dengan kenaikan harga komoditi di tahun 2021. Namun karena hal itu belum tentu terjadi, dalam artian apakah kenaikan dari nilai penjualan MEDC dapat menutup semua biaya produksi dan operasionalnya, kita masih perlu melihat LK di Q4 dan Q1 2021 nya dulu. Sehingga menurut saya, untuk saat ini di harga 500an/ lembar MEDC masih belum menarik untuk dibeli.

OVERALL SCORE: 5/10

Disclaimer: Analisa ini hanya ditujukan sebagai bahan pembelajaran saja, bukan ajakan untuk membeli atau menjual suatu saham. Segala keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing individu. Do Your Own Research.

Bagikan halaman ini